Sabtu, 02 Juli 2011

Jangan Menyesal di Akhirat

Posted by Sayidina Aris 19.49, under | No comments

Banyak pemandangan di sekitar kita, orang-orang berani berbuat dosa. Mereka tidak punya rasa takut sama sekali kepada Allah. Bahkan, sesuatu yang jelas Allah haramkan, diperjuangkan supaya dihalalkan. Ini sungguh suatu tindakan yang menantang Allah. Ingat, Allah tidak pernah lalai. Semua perbuatan sekecil apa pun ada perhitungannya di sisi-Nya. ”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula. (QS Azzalzalah [99]: 7-8]).
Perhatikan, betapa setiap perbuatan pasti terekam dengan rapi. Sampai dosa-dosa kecil pun tercatat dalam dokumentasi yang tidak mungkin hilang. Karenanya, kita sering mendapatkan kisah orang-orang saleh terdahulu yang sangat menyesali kesalahannya, hanya karena tertidur tidak sempat shalat malam, atau tidak sempat shalat Subuh berjamaah di masjid, dan lain sebagainya.
Mereka takut kalau nanti di akhirat ternyata ada dosa yang menghalangi untuk masuk surga. Mereka tidak mau menyesal di sana. Karena itu, membaca kisah-kisah sahabat Nabi SAW, adalah kisah-kisah perjuangan mengumpulkan amal saleh dan perjuangan bertobat atas dosadosa sekecil apa pun. Sebab, mereka yakin bahwa tidak ada gunanya menyesal setelah pindah ke alam akhirat.
Benar, tidak ada gunanya menyesal di akhirat. Karena di sana bukan tempat menyesal, melainkan tempat menerima balasan. Balasan atas segala amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Dalam banyak ayat Alquran, Allah SWT sering menceritakan penyesalan orang-orang kafir.
”Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala’.”( QS Almulk [67]: 10).
Inilah penyesalan yang pasti akan terjadi. Namun, apa arti penyesalan itu, sebab dunia yang Allah sediakan untuk beramal telah berakhir. Dan mereka tidak menggunakan kesempatan itu dengan sebaiknya-baiknya. Sekarang tibalah saatnya menyesal untuk selamanya. Sebab, akhirat adalah kehidupan untuk menerima balasan bukan untuk memperbaiki.
Karena itu, kalau ingin menyesal jangan menunggu datangnya akhirat. Segeralah menyesali dosa-dosa sekarang. Sebelum hati menjadi keras dan sebelum akhirat datang…
Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah-Nya dan berikan kemudahan dalam memperbaiki diri menjadi manusia yg beriman dan bertaqwa kpd Alloh swt,yang taat kepada kebenaran, agar nantinya bisa selamat dunia akhirat…amiin…

Bagaimana Dosa Kecil menjadi besar

Posted by Sayidina Aris 19.27, under | No comments

Setan akan mengajak manusia dari perkara yang paling besar yaitu mempersekutukan Allah. Kalau tidak bisa dengan perkara yang lebih kecil lagi seperti dosa-dosa besar, dan begitu seterusnya sehingga hal sekecil apapun tidak pernah dilewatkan oleh setan. Oleh karena itu Allah I memerintahkan kita agar menjadikan setan sebagai musuh, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُوا حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. 35:6)
Kita mungkin bisa menghindari dari dosa besar seperti zina, mencuri, dan dosa-dosa besar lainnya, tapi tidak bisa menghindari dosa kecil hanya karena alasan dosanya kecil. Padahal kalau kita melihat dalil-dalil syar’i, beberapa dosa tersebut dapat menjadi besar. Dan memang inilah cara-cara setan dalam memperdaya umat ini. Oleh karena itu begitu lihainya syetan menggunakan kesempatan. Allah I memerintahkan kepada kita agar menjauhkan diri dari segala yang dilarang, yang besar maupun yang kecil. Allah  berfirman yang artinya:
Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah;. (QS. 59:7)
Bagaiman dosa-dosa kecil menjadi besar?
1. Dilakukan terus-menerus Misalnya seorang laki-laki memandang wanita dan ini adalah zina mata, namun zina mata lebih kecil dari zina kemaluan. Tapi dengan melakukannya terus-menerus maka dia akan menjadi besar . Sebab tidak ada dosa kecil kalau dilakukan terus-menerus, sebagaimana dikatakan seorang salaf:’ Tidak ada yang namanya dosa kecil kalau dilakukan terus-menerus dan tidak ada dosa besar apabila diiringi dengan taubat”.
2. Karena diremehkan Sesungguhnya perbuatan dosa itu apabila dianggap berat oleh seorang hamba akan menjadi kecil di sisi Allah I. Karena anggapan sebuah dosa sebagai dosa yang besar berpangkal dari hati yang benci kepadanya dan berupaya menghindarinya.
3. Apabila seorang hamba merasa senang melakukannya. Perasaan bangga gembira dan senang terhadap dosa, menjadikan dosa tersebut menjadi besar. Ketika rasa senang kepada dosa kecil sudah mendominasi diri seseorang, maka menjadi besarlah dosa kecil tersebut, dan besar pula pengaruhnya untuk menghitamkan hatinya. Sampai-sampai ada yang merasa bangga karena bisa melakukan sebuah dosa, padahal kegembiran pada sebuah dosa lebih besar dari dosa itu sendiri. Allah I berfirman:
إَنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ ءَامَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 24:19)
Misalnya seperi orang yang berkata: Tidakkah kamu tahu bagaiman aku membuntuti fulan dan berhasil melihatnya” atau ucapan-ucapan dan perbuatan lainnya yang menunjukkan sikap bangga dan senang atas perbuatan dosa. Maka semua itu menjadikan dosa yang semula kecil menjadi besar.
4. Apabila menyepelekan tabir Allah I yang menutupi kesalahannya, kasih sayang-Nya dan keramahan-Nya Sikap santainya dalam melakukan dosa, tidak adanya rasa takut kepada Allah I dan pengawasan-Nya. Perasaan aman dari siksa Allah adalah gamnbaran dari menyepelekan tabir Allah. Dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu mendatangkan murka Allah. Ibnu Abbas t berkata: Wahai orang yang berdosa, jangan merasa aman dari akibat buruknya. Tatkala suatu dosa diikuti oleh sesuatu yang lebih besar dari dosa, jika kamu melakukan dosa, tanpa merasa malu terhadap pengawas yang ada di kanan kirimu, maka kamu berdosa, dan menyepelekan dosa itu lebih besar dari dosa itu sendiri,…, kegembiraanmu dengan dosa ketika kamu sudah melakukannya, itu lebih besar dari dosa itu sendiri, kesedihanmu atas suatu dosa ketika ia lepas darimu (tidak dapat melaksanakannya, maka itu lebih besar dari dosa itu sendiri. Kekhawatiranmu terhadap angin ketika ia menggerakkan daun pintumu pada saat kamu sedang melakukan dosa serta hatimu tidak pernah risau dengan pengawasan Allah kepadamu, maka itu lebih besar dari dosa itu sendiri”.

Mujaharah Yakni apabila seseorang melakukan dosa dengan terang-terangan di depan umum atau dengan menceritakannya kepada orang lain padahal jika ia tidak menceritakannya orang lain tidak ada yang tahu, kecuali dia dengan Rabbnya. Dengan sikap ini berarti ia telah mengundang hasrat orang lain untuk melakukan dosa tersebut dan secara tidak langsung ia telah mengajak orang lain untuk ikut melakukannya. Dalam hal ini ia telah melakukan dua hal sekaligus yaitu dosa itu sendiri ditambah mujaharahnya, sehingga dosanya pun menjadi besar. Rasulullah e bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُوْلُ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
“Setiap umatku dapat diampuni dosa-dosanya kecuali orang yang mengekspos dosa-nya. Contoh dari mengekspos dosa adalah seorang yang melakukan dosa dimalam hari, kemudian pada pagi harinya, padahal Allah I telah menutupi dosanya, ia mengatakan:Wahai fulan, tadi malam saya telah melakukan demikian dan demikian. Di malam hari Allah I telah menutupi perbuatan dosanya, namun di pagi harinya justru ia sendiri yang menyiarkannya”. (HR: Bukhari 5721, Baihaqi 17373, Dailami 4795)
6. Jika dilakukan oleh orang yang menjadi panutan
Seorang yang diangap panutan, baik ia seorang ulama atau seorang direktur perusahaan, kepala sekolah atau siapa saja yang mempunyai pengaruh, sehingga apabila ia melakukan suatu dosa orang-orang akan mengikutinya, maka dosa yang dilakukannya itu menjadi besar. Sebab dosa-dosa orang yang mengikutinya akan menjadi tanggungannya. Rasulullah e bersabda:
وَمَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يُنْقَصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
‘Barangsiapa yang membuat dalam Islam tradisi yang buruk, maka dibebankan kepadanya dosa yang buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun. (HR: Muslim 1017, Ahmad 19179-19197)
Rasulullah e ketika menulis surat kepada Najasyi ( Asyhamah bin Al-Aabjar) Raja Habasyah (Ethiopia), Juraij bin Mata yang bergelas Muqauqis raja Mesir, Kisra raja Persia, Heraqlius raja Romawi dalam rangka mengajak mereka ke dalam Islam. Di antara isi surat tersebut disebutkan bahwa jika mereka menolak, maka mereka akan menanggung dosa semua kaumnya. Hal ini tiada lain karena mereka adalah panutan bagi kaum mereka. Jika mereka masuk Islam maka dengan sendirinya mereka juga akan masuk Islam, walaupun tidak semuanya.
Ini adalah sebagian yang menyebabkan dosa kecil menjadi besar, kalau ada di antara kita yang pernah salah karena pernah melakukan hal yang tersebut, hendaklah kita bertaubat kepada Allah I, janganlah kita menunda-nunda karena tidak ada yang bisa menjamin kalau kita masih akan hidup sampai esok hari, sebab berapa banyak tanaman yang rusak sebelum keluar tunasnya. Semoga Allah memberikan kepada kita taufik-Nya.

Kitab Hayatush Shohabah

Posted by Sayidina Aris 19.18, under | No comments

Penjelasan kitab hayatush shohabah  3 jilid oleh Maulana Ahmad Lat 

Tuan-tuan yang mulia,
Usaha yang kita buat ini, semirip-mirip yang kita boleh buat dengan sunnah Baginda s.a.w dan sebanyak mungkin yang kita boleh buat mengikut apa yang terkandung di dalam kitab suci Allah s.w.t iaitu Al-Quran, maka sebanyak itulah keselamatan kita dan kemajuan kita. Oleh itu, ramai orang minta Maulana Yusuf rah  tuliskan satu kitab usul. Beliau kata, “Kalau saya tulis kitab usul, yang akan baca kitab itu hanyalah orang-orang yang menjadi pengikut saya atau orang-orang yang terlibat dalam usaha ini, orang-orang yang ada kepercayaan terhadap saya, mereka sahaja yang akan baca, yang lain tidak akan baca, walhal usaha ini adalah usaha yang datang daripada kehidupan sahabat, kerana Allah s.w.t telah jadikan sahabat-sahabat sebagai contoh dan teladan untuk umat, untuk semua kemanusiaan, dijadikan contoh dan teladan, dan apa yang Allah tekankan dalam kitab suci menjadi satu undang-undang untuk mereka. Oleh itu, saya tulis hayatus sahabah”.
Maulana Ahmat Lat kata, “Sedaya upaya saya, setakat mungkin dengan masa yang ada, akan terangkan pada tuan-tuan kisah hayatus sahabah”.
Hayatus sahabah ialah kehidupan suci murni atau kehidupan orang-orang yang Allah s.w.t jadikan contoh dan teladan untuk kita. Segala usul dan adab akan datang daripada kehidupan mereka, tidak perlu lagi apa-apa usul dan adab dari aspek-aspek lain. Daripada hayatus sahabah, kehidupan para sahabat itulah akan datang adab dan usul. Sesiapa yang dapat ikut cara mereka, sebanyak itulah keselamatan dia dan sesiapa yang tidak ikut cara itu, tiada apa-apa kepastian/jaminan samada dia akan buat benda yang betul atau tidak.
Tuan-tuan yang mulia,
Hayatus sahabah dihimpun dan ditulis dalam 3 jilid. Ketiga-tiga jilid adalah satu keajaiban, kerana sehingga sekarang belum ada dalam sejarah percetakan satu kisah dengan cara itu ditulis. Pembukaan kitab itu, ayat pendek yang ditulis oleh Maulana Yusuf rah. mahfumnya ialah, “Ini ialah riwayat kisah orang-orang yang sudah membenarkan diri mereka dan janji-janji mereka dengan Allah s.w.t. Mereka syahid untuk Allah atau mereka sedang mencari-cari kesyahidan untuk Allah s.w.t”
Tuan-tuan yang mulia,
Pembukaan kitab dengan ayat tadi dan kesudahan kitab pula ditulis dengan kisah-kisah tentang bantuan-bantuan Allah s.w.t kepada para sahabat. Antara ayat pertama dan kisah bantuan dari Allah, dalam 3 jilid, dipaparkan kisah-kisah kehidupan sahabat dan maksud daripada kehidupan itu hanya satu iaitu orang-orang dapat melihat dan usahakan sehingga mereka benar-benar dapat bantuan ghaib Allah s.w.t. Mereka usahakan atas diri mereka dan jadikan sahabat sebagai contoh dan teladan sehingga Allah s.w.t akan turunkan kepada mereka bantuan-bantuan ghaib Allah s.w.t dan orang-orang bukan Islam, bila mereka lihat bantuan-bantuan ghaib Allah s.w.t diturunkan kepada orang-orang Islam, maka dengan sendirinya mereka lihat kehidupan suci murni orang-orang Islam, mereka akan teringin masuk Islam, memang kehidupan ini kehidupan yang paling baik sekali. Bila mereka lihat bantuan ghaib Allah s.w.t, dengan sendirinya mereka akan datang kepada orang Islam dan mahu terima agama Islam kerana mereka juga mahu bantuan ghaib untuk mereka juga.
Tuan-tuan yang mulia,
Dalam kisah terakhir hayatus sahabah, kisah Hercules yang gagah perkasa, kerajaan yang besar, tentera yang beratus ribu, akhirnya bertempur dengan tentera Islam dan telah hancur lebur tentera Hercules. Bila laporan sampai kepadanya bahawa tenteranya telah kalah, dia hairan dan panggil pegawai-pegawai atasan tentera. Mereka datang dan dia mula tanya pada mereka. Dia mula dengan jawatan kecil, mula dari bawah hingga ke atas. Dia tanya, “Mengapa kita kalah? Apa yang kamu lihat dikalangan mereka”. Bilangan mereka sedikit – ya! Bilangan kita ramai – ya! Senjata kita banyak – ya! Senjata mereka kurang – ya! Macam mana kita boleh kalah? Orang pertama jawab, bila mereka hendak melaksanakan apa yang terkandung dalam syariat mereka, mereka amalkan perintah-perintah itu dengan penuh kesungguhan, mereka ambil berat untuk melaksanakan amalan-amalan itu dengan sebaik mungkin, solat dan amalan-amalan yang lain. Orang kedua kata, apa yang orang pertama cakap tadi semuanya betul, saya pernah lihat satu perkara lagi, iaitu sebagaimana mereka jaga, ambil berat amalkan kehendak-kehendak agama mereka dengan begitu baik, dengan begitu sempurna, begitu juga mereka ambil berat dan jaga-jaga diri mereka daripada perkara-perkara yang dilarang dalam agama mereka. Kalau mereka ambil berat untuk bersungguh-sungguh dalam solat, begitu juga mereka ambil berat dan bersungguh-sungguh tidak akan cakap bohong. Kalau mereka ambil berat dan bersungguh-sunguh dalam puasa mereka, paling sempurna, paling baik, begitu juga mereka ambil berat supaya mereka tidak mengumpat sesiapa dsbnya. Pendek kata, mereka ambil berat dalam suruhan-suruhan Allah s.w.t dan bersama dengan itu, mereka ambil berat yang sama, kesungguhan yang sama, dalam meninggalkan larangan-larangan Allah s.w.t.
Tuan-tuan yang mulia,
Selepas itu, Hercules panggil orang yang ketiga, ketua angkatan perang dan tanya apa pendapat kamu? Kedua-dua orang pertama dan kedua tadi betul. Kenapa kita kalah? Kita sudah ada semua persiapan. Pada pendapat saya mereka menang dengan bantuan Allah s.w.t, bantuan ghaib kepada mereka. 2 perkara tadi yang menyebabkan mereka dapat bantuan Allah s.w.t di mana mereka bersungguh-sungguh dalam menjalankan suruhan-suruhan agama dan mereka begitu berhati-hati, berjaga-jaga dalam larangan-larangan agama mereka. Sebab itulah mereka menang. Bersama-sama itu ada satu sifat lagi di mana bila bertempur, tentera orang-orang Islam ini, setiap daripada mereka mahu maju ke hadapan. Dia mahu dahulukan diri dia daripada kawan dia manakala tentera kita pula tolak kawan ke hadapan. Mereka tolak kawan ke belakang dan diri sendiri pergi ke depan, itulah sebab kita kalah.
Selepas mendengar semua cerita itu, Hercules kata, jika apa yang semua kamu kata ini betul, amalkan segala perintah dan suruhan Allah s.w.t dan tinggalkan segala apa yang dilarang dan bersungguh-sungguh hendak beri nyawa dalam apa yang hendak di buat, jadi dalam dunia ini tidak akan ada mana-mana kekuatan yang boleh menahan kemarahan mereka.
Tuan-tuan yang mulia,
Mungkin tuan-tuan pernah dengar, kalau terbaca nasihat yang tertulis atas dinding pun, ambillah nasihat itu, ia akan memberi menafaat kepada kamu. Siapa yang bagi nasihat ini kepada kita? Musuh Islam. 3 perkara ini dicakap oleh musuh Islam, laporan ini diberi oleh musuh Islam kepada musuh Islam. Dalam keadaan begini pun, apa yang mereka cakap, kita dapat satu nasihat yang begitu besar di mana memang sebenarnya itulah perkara yang asal sekali untuk dapatkan kejayaan. 3 perkara : Pertama, Buat apa yang disuruh oleh Allah s.w.t. Kedua, tinggalkan apa yang dilarang oleh Allah s.w.t. Ketiga, Apa juga takazah yang datang, masa itu, depankan diri, jangan cuai, jangan malas. Takazah mungkin pada masa itu takazah zikir, infradi amal, baca Quran dsbnya, boleh jadi takazah usaha tempatan, boleh jadi takazah keluar dijalan Allah s.w.t, apa juga takazah agama yang datang pada masa itu, disitu kita depankan diri kita, kita bersungguh-sungguh, jangan kita malas, ini pasti dan pasti kejayaan akan diberi oleh Allah s.w.t.
Tuan-tuan yang mulia,
Bila kita buat 3 perkara ini, bantuan ghaib yang datang daripada Allah s.w.t, begitu rupa sehingga musuh-musuh Islam pun akan nampak bantuan itu. Maulana tanya, dalam hati tuan-tuan ada atau tidak keinginan supaya tuan-tuan dapat lihat bantuan ini? Kisah ini adalah kesudahan daripada hayatus sahabah. Semua cerita ada kesudahannya tetapi hendak cari kesudahan, perlu ada permulaannya. Maksud daripada kesudahan ialah tempat kita kena tuju dan tahap yang kita kena capai.
Tuan-tuan yang mulia,
Kita tidak inginkan apa-apa dalam dunia ini, kita tidak mahu negara, kita tidak mahu kerajaan, kita tidak mahu harta, kita tidak mahu jawatan dsbnya, kita tidak mahu apa-apa pun, itu semua bukan maksud dan hajat kita. Maksud dan hajat kita hanya satu sahaja iaitu bagaimana kita dapat usaha supaya bantuan Allah s.w.t turun atas muka bumi ini, supaya mangga kejahilan, mangga kesesatan dapat dibuka oleh kunci-kunci hidayat atas setiap jiwa yang belum diberi hidayat oleh Allah s.w.t. Itulah keinginan kita yang sepatutnya.
Tuan-tuan yang mulia,
Allah s.w.t ambil kerja daripada oang-orang di mana hati mereka, mereka kosongkan daripada setiap jenis keinginan. Tidak ada apa-apa keinginan, tidak ada apa-apa kemahuan, tidak ada apa-apa benda yang diidam-idamkan, apa pun tidak ada dalam hatinya, dalam hatinya hanya ada satu perkara sahaja iaitu bagaimana Allah s.w.t dapat masukkan hidayat dalam setiap hati manusia di atas muka bumi ini. Apa yang diceritakan tadi ialah kesudahan iaitu bntuan Allah s.w.t, keinginan yang kita hendak capai supaya setiap orang dapat hidayat, itu adalah kesudahan, kesudahan dalam kisah hayatus sahabah. Sebelum itu ada 3 jilid yang penuh dengan kisah-kisah bagaimana hendak capai perkara tersebut. Kata maulana, saya tamsilkan 3 jilid itu seperti mana satu lautan yang mempunyai ombak yang besar. Tuan-tuan tinggal di satu negara yang dikelilingi oleh lautan, oleh itu tuan-tuan lebih mudah hendak faham.  3 jilid ini, adalah satu lautan dengan ombak yang begitu hebat. Sesiapa yan hendak turun ke dalam ombak itu, dia kena sediakan diri dia terlebih dahulu. Kenapa? Pakaian malam lain, pakaian siang lain, pakaian kerja lain, pakaian untuk berenang pun lain. Untuk berenang dalam lautan kena pakai pakaian yang special. Ayat yang Maulana Yusuf rah. tulis pada permulaan kitab, yang maulana baca tadi itu, ayat itu sebenarnya adalah pakaian, pakaian untuk orang yang hendak masuk ke dalam lautan ini, dan dia hendak berenang dan berenang dan berenang sehingga datang bantuan dari Allah s.w.t. Mereka punya keinginan satu sahaja. Apa keinginan mereka? Keinginan mereka ialah, pertama, hendak syahid, dan kedua, menunggu hendak syahid. Hidup kita daripada sekarang ini, tidak harus ada apa-apa idaman lagi, tidak harus ada apa-apa keinginan, tidak harus ada apa-apa keseronokan lagi, semua tidak perlu ada, keinginan kita cuma satu sahaja iaitu bagaimana setiap orang di atas muka bumi ini, dapat hidayat dari Allah s.w.t dan bagaimana saya usaha, saya usaha, saya usaha, sehingga saya dapat rasa dan mati syahid di jalan Allah s.w.t .
Oleh itu, semua pakaian yang tuan-tuan pakai sekarang perlu ditanggalkan dahulu. Apa pakaian kita? Saya seorang doktor, saya seorang lawyer, saya seorang peniaga, saya orang Kuala Lumpur, saya orang Johor Bahru, saya orang Malaysia, dsbnya, ini semua pakaian-pakaian kita. Semua pakaian-pakaian ini kena ditanggalkan dahulu. Saya sebagai suami, saya bapa kepada anak, saya pemilik kepada kedai, ini semua kena ditinggalkan. Buang semua pakaian dan lepas itu kena pakai pakaian special, satu bawah, satu atas  iaitu saya ialah hamba Allah dan umat Baginda s.a.w.
Sebagai hamba kepada Allah s.w.t, saya akan melaksanakan segala perintah-perintah Allah s.w.t, cara yang dikehendaki oleh Allah s.w.t, cara Baginda Muhammad s.a.w dan kerana saya adalah umat kepada Baginda s.a.w, sebagai umat, saya akan jadikan kerisauan Baginda sebagai kerisauan saya, fikir Baginda sebagai fikir saya, rintihan Baginda sebagai rintihan saya, segala keinginan dan kehendak Baginda sebagai keinginan dan kehendak saya, dengan niat dan semangat inilah baru kita boleh mula buat kerja.
Tuan-tuan yang mulia,
Dalam jilid yang pertama, kisah-kisahnya adalah berkenaan mujahadah, bagaimana bila sahabat mula buat usaha, mereka didatangi kesusahan, ketiadaan makanan dan minuman, ketiadaan pakaian, ketiadaan serba-serbi, macam-macam kesusahan, macam-macam penderitaan, semuanya datang kepada para sahabat bila mereka mula buat usaha agama Allah s.w.t. Inilah permulaan dalam kerja. Sahabat kata, kebaikan demi kebaikan, atau dalam kebaikan ada kebaikan yang lebih baik, kebaikan yang macam itu pun kami dapat dalam keadaan di mana semua keadaan bertentangan dengan diri, bertentangan dengan nafsu, dalam itulah kami dapat kebaikan yang paling banyak sekali.
Dalam jilid pertama, semua adalah kisah-kisah dakwah. Dalam proses kisah-kisah dakwah, kesukaran dan masalah dihadapi oleh sahabat-sahabat. Bagaimana kesukaran yang datang kepada Bilal r.a, kepada Khabab r.a, kepada keluarga Ammar b. Yasir r.a, kepada Abu Bakar siddiq r.a, dan sahabat-sahabat yang lain, bermacam-macam kesusahan, penderitaan datang. Adakah mereka ini orang-orang yang tidak baik, adakah mereka rampas harta orang, adakah mereka rampas tanah orang, adakah mereka telah buat sesuatu kepada orang dan dibalas dendam, tidak!
Satu keburukan pun mereka tidak buat, mereka hanya buat satu amalan iaitu mereka dakwah manusia kepada agama Allah s.w.t. Itu sahaja yang mereka buat.
Tuan-tuan yang mulia,
Bila penderitaan dan kesusahan yang dihadapi oleh para sahabat sampai ke satu kemuncak, di mana sukar hendak tahan lagi, sehingga mereka minta bantuan dari baginda s.a.w dan apa yang diberitahu kepada mereka iaitu, bersabarlah dan Baginda s.a.w beritahu kehidupan dalam dunia ini singkat sahaja. Allah s.w.t akan beri kelapangan dan keluasan di akhirat. Bila sahaja datang penderitaan, maka Baginda s.a.w akan sentiasa beritahu pada mereka kelapangan dan keluasan akhirat. Begitu juga, maulana baca syair, beberapa rangkap, maksudnya lebih kurang, bila sahaja kamu didatangi dengan penderitaan dan kesusahan, kamu bayangkanlah surah alamnasrah, di mana setiap kesempitan ada keluasan. Antara 2 kesempitan akan ada keluasan.  Macam mana susah payah dalam dunia ini pun, sekiranya kita berada atas agama Alah s.w.t, atas usaha agama Allah s.w.t, pasti dan pasti kepuasan dan kelapangan hidup untuk selama-lamanya yang akan diberi kepada kita di akhirat esok.
Sahabat-sahabat pun manusia juga. Dalam penderitaan mereka, keseronokan dan kelazatan yang mereka rasai tidak dapat dirasa oleh orang lain di tempat yang paling baik sekali, sepertimana dalam tangisan mereka di waktu malam, penderitaan yang mereka rasa dan dalam penderitaan itu ada keseronokan yang tidak dapat dirasai oleh orang yang minum arak pada masa itu. Dalam tangisan mereka pada Allah s.w.t, keseronokan dan tangisan yang mereka rasa tidak dapat tidak rasai oleh mereka yang makan sajian-sajian istana, walau bagaimanapun sahabat-sahabat adalah manusia juga. Setiap perkara ada kesudahan. Sabar dalam menanggung penderitaan dan kesusahan pun ada satu tahap, dimana lebih daripada tahap itu, mereka pun tidak boleh terima. Bila mereka tidak boleh terima lebih daripada itu, Allah s.w.t pun tidak akan memberi lebih daripada itu dan pada masa itulah akan sampai, waktu-waktu dimana bantuan ghaib Allah s.w.t akan datang. Tentang perkara itu, Maulana Yusuf rah. pernah menulis iaitu ayat yang Maulana baca tadi, ambiya a.s pun, dimana kesabaran dan ketabahan mereka berada diperingkat yang paling tinggi bila dibandingkan dengan manusia-manusia lain, mereka juga ada satu tahap dimana lebih daripada itu mereka pun tidak boleh terima, tidak boleh buat apa-apa, tidak ada apa-apa perkara yang boleh bantu lagi dan bila tidak ada apa-apa kebendaan yang boleh bantu hamba-hamba Allah lagi khususnya ambiya a.s, masa itulah Allah s.w.t akan buka pintu ghaib pada mereka dan perkara yang sama jadi pada sahabat-sahabat iaitu bila sabar mereka sudah tidak boleh buat apa-apa, tidak ada kebendaan yang boleh bantu mereka, masa itu Allah s.w.t buka pintu ghaib pada mereka dan bantuan yang datang pada mereka begitu hebat dan begitu dahsyat.
Tuan-tuan yang mulia,
Bila-bila masa pun, Allah s.w.t telah jadikan beberapa orang sebagai asbab untuk sebarkan hidayat, yang tuan-tuan lihat sekarang ini, ramai orang yang ada, di seluruh dunia kerja sedang berjalan, bukan semua orang datang serentak, sama seperti ambiya a.s, mana-mana waktu pun biasanya nabi akan diutus seorang sahaja pada satu masa, dia akan buat usaha seorang diri, selepas itu beberapa orang akan jadi pengikutnya dan selepas itu akan mula bertambah. Begitu juga dengan kedatangan baginda s.a.w, kehidupan di kota Mekah, begitu lama, beberapa tahun, yang datang jadi kawan kepada baginda, terima agama, sedikit sahaja, dalam keadaan sembunyi, dsbnya. Selepas 13 tahun, berhijrah ke Madinah, di situ bilangan bertambah, lelaki dan wanita sehingga menjadi satu golongan yang besar. Begitu juga di mana-mana waktu, di mana-mana tempat, akan ada cara itu tetapi bila mula-mula usaha dibuat, ada beberapa orang akan datang dan mereka akan beri pengorbanan dengan ikhlas dan orang yang beri pengorbanan dengan ikhlas, maka Allah s.w.t akan jadikan mereka sebagai tunjang, sebagai asas dan gunakan mereka untuk sebarkan hidayah ke tempat-tempat lain. Begitu juga, di mana-mana zaman, di mana sahaja bila ada beberapa orang yang buat usaha dengan ikhlas dan semangat serta niat mereka, tidak mahu apa-apa, tidak ada apa-apa keinginan, tidak ada apa-apa jasbah dalam diri mereka selain hidayah Allah s.w.t. Bila mereka buat usaha, Allah s.w.t jadikan mereka sebagai asbab untuk sebarkan hidayah ke tempat lain.
Tuan-tuan yang mulia,
Bila usaha dibuat di satu tempat, orang mula bertambah sedikit demi sedikit, ramai orang sudah mula buat kerja dan yang datang buat kerja, datang dengan bermacam-macam kemampuan, kebolehan, istiqdat mereka berbeza-beza, sehingga baginda s.a.w bersabda, setiap manusia seperti satu lombong, lombong emas, lombong perak, lombong berlian. Istiqdat dan kemampuan semua orang adalah bernilai, nilai berbeza-beza, bermacam-macam kemampuan dan kebolehan, macam itulah manusia, bila orang-orang seperti ini ramai telah berkumpul dan buat usaha, maka mereka akan didatangi ujian-ujian. Apa ujian pertama? Ujian pertama ialah siapa hendak jadi ketua. Antara ramai-ramai ini siapa punya cakap akan diikuti. Inilah ujian pertama.
Tuan-tuan yang mulia,
Bila-bila pun dan di mana-mana pun, bila ramai telah berkumpul dan berhimpun maka ujian pertama ini datang. Allah s.w.t tunjukkan jalan macamana hendak lulus ujian ini. “waman ahsanuqaulam mimman daa illallah…..” , Hadzratji rah. kata dalam ayat ini Allah s.w.t beritahu 3 perkara. Pertama, satu orang sebagai umat baginda s.a.w, dia kena fikir alami, fikir seluruh dunia macamana usaha boleh dibuat di seluruh dunia. Selepas fikir itu jangan lupa diri sendiri. Diri sendiri lalai, muamalat tidak betul, muasyarat tidak betul, jual-beli tidak betul, akhlak tidak betul, pergaulan tidak betul, Quran tidak jaga, zikir tidak jaga, amalan infradi tidak jaga, diri sendiri lalai, cuma fikir seluruh alam, bentuk jemaah, orang ini adalah orang yang cacat dalam usaha dakwah.
Satu orang lain pula, begitu jaga tentang dirinya, jaga solat jemaah, jaga amal infradi, zikir, Quran, akhlak, muasyarat, muamalat, semua jaga tetapi langsung tidak ada fikir apa sedang jadi di dunia, apa takazah di tempat lain, orang macam inipun adalah adalah orang yang cacat, dakwah yang cacat.
Kalau ada orang buat kedua-dua dengan sempurna, dalam fikir sempurna, dalam usaha sempurna, bentuk jemaah, buat semua kerja, hantar jemaah dsbnya, selepas itu dapat jaga pula diri dia, muasyarat, muamalat, akhlak, Quran, zikir, solat, semua dapat dijaga. Apa yang akan selamatkan dia, dia berkata, “Saya seorang Islam yang biasa sahaja”.
Perkara yang ketiga, saya seorang Islam yang biasa, saya tidak layak dijadikan syura, saya tidak layak bagi pandangan, saya tidak layak untuk diutuskan ke mana-mana, saya tidak layak diminta syor, dsbnya, saya seperti orang biasa sahaja, saya terus akan buat kerja saya, sepertimana yang saya buat, dan tidak perlu saya jadi syura, tidak perlu saya jadi ahli mesyuarat, tidak perlu saya dimuliakan, tidak perlu saya dihormati, tidak perlu saya diberi jawatan, tidak perlu saya diberi penghargaan, sifat itu kita kena usahakan, barulah kita akan selamat, barulah dakwah kita akan jadi dakwah yang sempurna. Bila orang ramai kumpul, bila ujian pertama datang, biasanya apa akan jadi? Hadzratji rah. beritahu ujian pertama, ialah kebanggaan diri “I’m somebody”. Ramai orang buat kerja, tetapi orang ini telah buat keputusan tentang kedudukan dia sendiri, tentang kemampuan dan kebolehan dia. Andaian dia ialah bayan dia bagus, bayan dia berkesan, kerja dia bagus, pengorbanan dia hebat, oleh kerana itu, orang punya tingkah laku dengan saya patutlah mereka jaga saya punya harga, saya punya kedudukan, mereka harus jaga. Bila mereka hendak berhubung dengan saya, hendak bercakap dengan saya, bila apa-apa kerja hendak dibuat, mereka haruslah pentingkan saya, minta pandangan saya. Dia telah buat keputusan tentang kedudukan diri dia, orang lain tidak tahu tentang keputusan itu, mereka ingat kita sama-sama buat usaha maka semua orang biasa sahaja dengan dia, mereka pun bagi pandangan, kebetulan pandangan itu bertentangan dengan pandangan dia dan kadang-kadang dia cakap sesuatu, perkara itu tidak diterima dan dia jadi geram, dia geram dengan semua orang lebih-lebih lagi orang buat keputusan tidak ikut pandangan dia. Dia akan kata orang ini musuh saya, apa saya cakap semua tidak mahu terima, syor saya tidak diterima. Lama-kelamaan semua nampak musuh kerana orang tidak muliakan dia sepertimana dia selayaknya dimuliakan. Dia telah buat keputusan tentang kedudukan diri dia sendiri yang mana orang lain tidak tahu tentang keputusan itu. Bila manusia ada sifat ini, siapa yang paling seronok? Syaitan meloncat-loncat dengan keseronokan sepertimana tuan-tuan masak nasi, nasi meloncat-loncat semasa mendidih atau semasa rebus telur atau ubi kentang, begitulah juga syaitan meloncat-loncat keseronokan.
Sebenarnya keadaan ini sama seperti satu orang yang keluar daripada rumah dia, dia ambil masa yang lama untuk hias diri, pakai seluar, pakai baju, tengok matching atau tidak, tukar lagi, cream rambut, bedak, spray sana, spray sini, banyak masa sudah diambil untuk menghias diri, bawa briefcase, jalan dengan satu gaya/stail, I’m somebody, masuk pejabat, dia andaian diri dia somebody dikalangan orang ramai tetapi orang ramai pula tidak tahu dia somebody dan buat tidak kisah dengan dia, itulah keadaan dalam usaha kita bila jadi somebody.
Tuan-tuan yang mulia,
Semoga Allah s.w.t selamatkan kita semua dengan penyakit somebody ini. Bila penyakit ini datang, ia akan bawa penyakit hati, bila datang penyakit hati, semua sifat-sifat terkutuk, terburuk akan masuk dalam hati, iri hati, hasad, dengki, ini semua anak-anak kecil. Selepas itu datang pula mengumpat, ghibah, fitnah, sangka buruk, cerita sini, cerita sana kelemahan dan keburukan orang, ini semua penyakit-penyakit pada sifat utama tadi. Ulamak beritahu, dosa hati lebih besar dari dosa badan. Bila satu manusia cakap bohong, orang lain akan tegur, kenapa cakap bohong, dia pun sedar dan istighfar. Kalau dia istighfar dan taubat dengan betul maka Allah s.w.t ampunkan dosa dia. Dia buat apa-apa benda yang buruk dengan tangan dia dsbnya, orang akan tegur dan dia boleh beristighfar dan bertaubat kerana dia tahu ini benda yang tidak betul. Dosa hati, perasaan, sangka buruk, hasad, iri hati, dengki terhadap orang, mengumpat dan ceriat buruk orang, dia tidak anggap itu dosa. Dia tidak anggap benda yang dia buat itu tidak betul, malah dia bangga lagi, dia bagus dan orang lain teruk. Dia tidak tahu benda itu dosa, dia tidak sedar benda itu dosa, dia tidak anggap perkara itu dosa dan dia tidak dapat kesempatan untuk beristighfar dan bertaubat kepada Allah s.w.t.
Tuan-tuan yang mulia,
Bila sifat-sifat ini  datang dalam diri manusia, tidak kira siapa sahaja, sifat-sifat ini, iri hati, hasad, dengki, fitnah, mengumpat, cerita buruk orang, bawa mulut, kalau salah satu daripada sifat buruk ini ada pada manusia, tidak kira apa usaha yang dia buat, maka bukannya bantuan Allah akan datang tetapi kemurkaan Allah yang akan datang. Orang sudah buat usaha, dan orang inilah diharapkan supaya mereka akan jadi asbab dan Allah s.w.t akan jadikan mereka sebagai tunjang atau asbab dan atas usaha mereka Allah akan bawa hidayah dan akan sebarkan hidayah tetapi sekarang mereka sudah ada keburukan macam ini, maka bukan bantuan Allah akan datang tetapi sebaliknya kemurkaan Allah yang akan datang.
Maulana beri satu tamsil, si buta mengisar dan anjing betina lesapkan. Apa maksudnya? Maksudnya ialah seorang tua buta, dia diberi beras atau gandum untuk dikisar untuk buat roti, sedang dia mengisar, dia buta, dia tidak nampak, kisaran jatuh ke bawah dan anjing betina datang dan makan/lesapkan. Anak orang tua buta itu tanya, “Mak sudah kisar?” Jawab mak, “sudah”. Tanya anak, “di mana?” Jawab mak, “ada di sini”, sebenarnya semua tidak ada, apa pun tidak ada. Begitu juga sifat-sifat buruk ini, andaian dia, dia sedang maju dalam usaha, tetapi akibatnya jadi macam kes kisar tadi, dimana bukan dia yang maju, kerana perasaan iri hati dan dengki, semua amalan yang dia buat, semua tidak diterima oleh Allah s.w.t. Kerana keburukan itu Allah s.w.t hantar lagi bala dan dosa atas dia. Bagaimana pula orang ini yang sepatutnya dijadikan asbab untuk turunkan bantuan Allah, sekarang ini dia sudah mempunyai dosa, oleh itu macamana hidayah akan tersebar.
Insya’Allah tuan-tuan yang mulia, bila tuan-tuan datang sini tahun depan, saya akan bagitahu cara bagaimana hendak selamatkan diri daripada ujian pertama tadi. O.K atau hendak sambung? Sambunggggg….
Maulana kata, “apa tuan-tuan hendak bagi saya?” Sekarang baju berenang sudah pakai atau belum?”
Tuan-tuan yang mulia,
Baginda s.a.w, beliau telah ajar segala-galanya kepada kita. Beliau ajar satu doa, “Ya Allah, biarlah aku ini dipandang rendah dalam pandangan saya sendiri, dan biarlah pada pandangan orang lain, saya dipandang mulia”. Cari masa lapang, latih diri iaitu saya ada kelemahan-kelemahan dan kawan-kawan lebih baik dari saya. Setiap masa, pandang kawan-kawan dan cari kebaikan mereka, setiap orang mesti ada kebaikan, cari kelemahan sendiri, kita mesti ada kelemahan. Ini adalah satu cara paling mujarab untuk keluarkan kita daripada ujian pertama tadi.
Perkara tersebut, baginda s.a.w amal sendiri, bukan hanya mengajar. Baginda buat sendiri untuk diri baginda supaya kita dapat diajar. Doa, baginda selalu baca doa itu. Satu bab dalam hadith, tentang kemuliaan/keunggulan sahabat, keunggulan-keunggulan sahabat, kebanyakkannya diceritakan oleh baginda s.a.w sendiri. Abu Bakar, begitu punya kemuliaan dan kebaikan dia. Usman, dia telah buat satu perkara, macam ini punya kebaikan, selepas ini bila kita sebut mana-mana dosa pun, Allah s.w.t tidak akan hukum dia. Umar, dia punya kebolehan, dia punya kemampuan, kalau pintu nabuwah masih terbuka, dia akan jadi nabi selepas aku. Sahabat-sahabat yang lain juga, penuh kitab hadith dengan kebaikan dan kemuliaan sifat-sifat yang baik yang disebut oleh baginda s.a.w kepada orang lain. Kenapa? Kerana baginda s.a.w nak ajar kita, hendak ajar kita bagaimana kita hendak hidup sama-sama dengan sahabat-sahabat dan kawan-kawan kita. Kalau kita buat demikian, apa akan terjadi? Pertama, Allah s.w.t akan wujudkan dalam diri kita, sifat tawadduq, sifat rendah diri. Kedua, ceritakan kebaikan orang, langsung tidak cerita keburukan orang, dengan sendirinya perasaan kasih sayang, cinta akan wujud dikalangan kita. Kedua-dua perkara ini akan dapat dihasilkan melalui cara yang diajar oleh baginda s.a.w.
Tuan-tuan yang mulia,
Banyak perkara yang hendak dicakap, tetapi masa tidak ada. Di mana tempat tuan-tuan buat usaha, supaya tuan-tuan dapat jaga penyatuan hati, ijtimaiyat, kesatuan. Kesatuan sangat penting, sebagai contoh, tuan-tuan tahu penyapu? Penyapu dibuat daripada apa? Lidi. Apa kekuatan lidi? Tiada kekuatan. Satu lidi, hendak sapu apa-apa pun kemungkinan besar lidi itu sendiri akan patah, tidak dapat bersihkan apa-apa. Tetapi bila lidi-lidi ini dapat disatukan, jadi penyapu, maka kita boleh sapu apa-apa sahaja. Begitu juga sekiranya tuan-tuan buat usaha dengan ijtimaiyat, dan perkara ini amat penting sebab tidak ada sesiapa antara kita di sini atau di mana-mana yang boleh kata saya sudah menyempurnakan hak usaha dakwah. Ertinya saya punya kemampuan dan kebolehan begitu punya hebat, saya sudah menunaikan hak usaha dakwah, tidak ada siapa antara kita boleh kata begitu, maksudnya kita semua kamzur, kita semua lemah, lemah kita macam lidi tetapi kalau kita bersatu, kita akan jadi penyapu. Bila jadi penyapu, segala keburukan-keburukan dalam masyarakat yang datang dalam muamalat, dalam muasyarat, dalam akhlak, dalam ibadat, apa-apa keburukan yang ada , semua akan dapat disapu bersih, oleh usaha orang-orang yang buat dengan satu hati.
Contoh, negara tuan-tuan, usaha ada di seluruh negara, universiti, kolej, di rumah-rumah, semua ada, tuan-tuan sendiri boleh lihat, natijah yang Allah s.w.t bawa kepada kita. Di tempat di mana anak-anak perempuan kita pergi belajar, mereka belajar sebenarnya bawa kebanggaan dalam kebogelan, pergi ke universiti, dan keluar dari universiti dengan tutup aurat. Pergi tidak tutup aurat, keluar universiti tutup aurat. Inilah kebersihan muasyarat, banykalah perkar-perkara yang lain. Perkara-perkara ini amat penting, macamana pun, memang kita semua lemah, hendak cerita orang punya keburukan memang ada, kerana kita semua lemah, bila buat kerja dengan satu hati, dengan kasih sayang, Allah s.w.t akan gunakan kita, lidi-lidi yang lemah ini, untuk bersihkan muasyarat kita, bersihkan negara-negara daripada segala jenis keburukan.
Akhir sekali, hadith Rasulullah s.a.w, “kamu tidak akan masuk syurga, sehingga kamu jadi mukmin, kamu tidak akan jadi mukmin selagi kamu tidak berkasih sayang antara satu sama lain”. Kalau hendak masuk syurga, kena jadi mukmin, hendak jadi mukmin, kena sayang menyayangi. Sifat sayang-menyayangi ini aialah sebenarnya pintu masuk ke syurga, jalan masuk ke syurga, dan perasaan hasad dengki, benci, tidak suka satu sama lain, ialah amalan itu, dengan sendiri kita tutup jalan ke syurga. Semoga Allah selamatkan saya dan tuan-tuan.

Soft Mortal Kombat

Posted by Sayidina Aris 02.16, under | No comments

Mortal Kombat, biasa disingkat MK, adalah fantasi ilmu serangkaian pertempuran game diciptakan oleh Ed Boon dan John Tobias. Empat pertama penafsiran dan update mereka dikembangkan oleh Midway Games dan awalnya dirilis pada mesin arcade. Judul arcade kemudian dijemput oleh Acclaim Entertainment untuk konversi rumah konsol. Dimulai dengan Mortal Kombat: Deadly Alliance, Game Midway secara eksklusif dibuat versi rumah Mortal Kombat sampai Universe Mortal Kombat vs DC. Menyusul kebangkrutan Midway itu, waralaba dijemput oleh Warner Bros pada bulan Juli 2009 dan menjadi bagian dari Cabang Warner Bros Interactive Entertainment. [1]
Seri mulai awalnya sebagai permainan berdasarkan artis aktor yang populer bela diri Jean-Claude Van Damme. Ide jatuh melalui dan Mortal Kombat lahir sebagai gantinya. Sebagai hasil dari keberhasilannya, Mortal Kombat telah melahirkan banyak sekuel dan telah berputar off ke beberapa game petualangan, film (animasi dan live-action dengan sekuel sendiri), dan serial televisi (animasi dan live-action). Lain spin-off serial buku mencakup berbagai komik, permainan kartu dan tur live-action.
Tiga asli game dan update mereka, Mortal Kombat, Mortal Kombat II, Mortal Kombat 3, Ultimate Mortal Kombat 3, dan Mortal Kombat Trilogy, yang ditata dalam mode pertempuran 2-D dengan gameplay yang terdiri dari lima tombol yang pukulan tinggi, rendah pukulan, tendangan tinggi, tendangan rendah, dan blok. Reviewer telah menyatakan bahwa karena ini karakter hanya dibedakan oleh bergerak khusus mereka. Bahkan, beberapa pengulas telah mengkritik bahwa "membingungkan" bergerak khusus dibandingkan dengan game pertempuran lain telah menghasilkan terlalu sedikit fokus pada pergerakan yang teratur [2].
Seri ini terutama terkenal karena sprite realistis digital (yang dibedakan dari tangan-larut sezaman 'sprite), dan tingkat tinggi dari darah dan gore, termasuk, terutama, grafis Meninggal-finishing bergerak, membutuhkan urutan tombol untuk melakukan, yang, sebagian, menyebabkan penciptaan ESRB [3]. [4] nama seri itu sendiri juga dikenal untuk menggunakan huruf "K" di tempat "C" untuk suara C drive, sehingga sengaja salah mengeja kata "tempur," serta kata lain dengan suara keras dalam game C kemudian di seri. Permainan awal dalam seri itu terkenal karena penggunaan swapping terkemuka palet untuk membuat sprite karakter baru.

Jumat, 01 Juli 2011

Jangan Hina Tuhan Mereka!

Posted by Sayidina Aris 18.06, under | No comments

Jangan Hina Tuhan Mereka! Ya, itulah salah satu pesan yang terkandung dalam firman Allah Q.S. Al-An’am [6]: 108 berikut ini.
Artinya:
“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’am [6]: 108)
Larangan Allah ini ditujukan kepada semua kaum muslimin, bukan kepada Rasulullah saw.. Hal itu karena tidak mungkin Rasulullah saw. melakukan perbuatan keji seperti itu. Beliau tidak pernah menghina dan mencerca.
Sementara kaum muslimin, pada umumnya seringkali melakukan hal keji karena dorongan emosi. Misalnya, ketika kaum muslimin diganggu oleh umat nonmuslim, mereka lantas mencak-mencak, marah, dan bahkan bisa mencaci maki Tuhan umat nonmuslim itu.
Oleh kerena itu, Allah menegaskan larangan ini. Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa seluruh kaum muslimin dilarang memaki Tuhan mereka yang bukan Allah itu, karena mereka juga bisa terpancing emosinya. Nanti mereka pasti balik mencaci maki Allah karena kebodohan mereka.
Sudah menjadi tabiat dasar manusia yang dianugerahkan oleh Allah, bahwa mereka akan selalu menganggap baik apa yang mereka yakini. Umat Islam meyakini bahwa agama Islam ini baik. Umat lain pun pasti manganggap baik agama mereka. Karenanya jika Tuhan mereka dihina, pasti mereka marah dan balik mencaci maki Tuhan umat Islam.
Apakah Allah takut dan merasa rugi jika dicaci maki oleh mereka?
Tidak! Dia tidak takut. Dia tidak akan rugi karena segala apa pun di dunia ini milik-Nya. Dia mengerluarkan larangan itu bukan karena takut atau merasa dirugikan. Allah itu Maha Penyayang, Allah tentunya tidak menghendaki jika hamba-Nya terjebak dalam lingkaran setan, karena luapan emosi atau amarah seperti itu merupakan tipu daya setan.
Lalu, jika umat lain yang memulai lebih dulu mencaci maki Allah, perlukan kaum muslimin marah?
Dulu saya merasakan itu. Ketika umat lain mencaci maki Allah dan rasul-Nya dengan perkataan tolol yang keluar dari kebodohan mereka, saya terpancing. Saya emosi, saya marah.
Akan tetapi kini, saya berusaha untuk tidak seperti itu. Bukan karena saya tidak cinta Allah dan rasul-Nya. Namun justru sebaliknya, saya berusaha lebih mengenal Allah dan rasul-Nya. Saya cukup tersenyum mengetahui caci maki mereka.
Saya yakin, Allah dan rasul-Nya tidak akan bangkrut akibat cacian mereka. Allah dan rasul-Nya tidak akan turun derajat karena dihina oleh jutaan manusia. Bahkan andai pun seluruh makhluk mencaci maki Allah, Dia tetaplahDzul-Jalali wal-Ikram. Dia tetap Zat yang Mahakuasa, Mahamulia, Mahakaya, Mahasuci.
Jadi, kenapa kita harus marah ketika Allah dan rasul-Nya dicaci maki oleh mereka?!
Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!!

AMANAT RASULULLAH S.A.W

Posted by Sayidina Aris 10.04, under | No comments

Wahai manusia dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan !!! Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini
Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak
Janganlah kamu sakiti sesiapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu pula. Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti akan membuat perhitungan atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba', oleh itu segala urusan yang melibatkan riba' hendaklah dibatalkan mulai sekarang.

Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.
Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas para isteri kamu, mereka juga mempunyai atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan mereka ke atas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang.
Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik! dan berlemah lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu ke atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.
Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini. Sembahlah Allah, dirikanlah solat lima kali sehari, berpuasalah di Bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dan harta kekayaan kamu dan kerjakanlah ibadah haji sekiranya mampu.
Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama;tidak ada seorangpun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam taqwa dan amal soleh.
Ingatlah bahawa kamu akan mengadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabk an atas segala apa yang telah kamu lakukan. Oleh itu, awasilah tindak-tanduk kamu agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.
Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah disampaikan kepada kamu.

Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. . Itulah Al-Quran dan Sunnahku.

Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku ini menyampaikannya pula kepada orang lain dan hendaklah orang yang lain itu menyampaikannya pula kepada orang lain dan begitu seterusnya.

Semoga orang yang terakhir yang menerimanya lebih memahami kata-kataku ini dari mereka yang mendengar terus dariku. Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya aku telah sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba- Mu. "

(Anak Sholehah)

Posted by Sayidina Aris 02.04, under | No comments

Suatu  waktu seorang ibu sedang sakit ditemani anaknya. Anaknya ini baru berusia 5 tahun. Ketika itu anaknya meminta diri kepada Ibunya karena ayahnya datang. Ayahnya bertanya, "Mau kemana Kakak ?" Anaknya dengan polosnya menjawab, "Mau mengambil wudhu yah, mau sholat dulu terus doain Bunda biar cepet sembuh." Lalu anak itu terus shalat, baca Al-Qur'an dan mendoakan Bunda yang di cintainya.

Sepenggal kisah ini sebuah hal yang menginspirasi kami untuk mewujudkannya. Apakah kita sudah mendidik anak kita sehingga mereka mendoakan orangtuanya ketika sedang sakit? mereka melaksanakan shalat tanpa disuruh oleh orangtuanya ketika waktunya sudah tiba? mereka mengingatkan kitah "yah, udah adzan, ke mesjid yu, shalat!"

Generasi yang cinta ibadah kepada Allah adalah generasi yang kita harapkan. Anak-anak yang mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah anak-anak yang ingin kita wujudkan melalui pendidikan. Manusia yang senantiasa mengingat Allah dalam setiap aktivitasnya dan menjalankan kewajiban kepada Allah adalah manusia yang ingin kita wujudkan,

Tags

Pengikut

Blog Archive